Peristiwa Isra' Mi'raj Rasulullah SAW




Oleh :
Afrizal El Adzim Syahputra, Lc., MA
(Pengurus PC GP Ansor Trenggalek)

Pada akhir bulan Rajab, terjadi peristiwa besar dalam sejarah kenabian, yaitu Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad saw. Isra’ Mi’raj adalah dua bagian dari perjalanan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw dalam waktu satu malam. Isra’ adalah kisah perjalanan Nabi Muhammad dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Palestina. Sedangkan Mi’raj adalah kisah perjalanan Nabi dari bumi ( masjidil aqsa ) menuju ke langit ketujuh dan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha, yang merupakan tempat  paling tinggi dan tidak bisa dijangkau oleh manusia, kecuali Rasulullah saw. Peristiwa ini terjadi sekitar 5 sampai 12 tahun pada malam Senin, tanggal 27 rajab setelah Muhammad saw diutus menjadi rasul dan setahun sebelum Rasulullah saw melakukan hijrah ke Madinah. Kisah  Isra’ ini disebutkan dalam firman Allah swt :
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ (1)
“Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” ( QS Al Isra’ : 1 )
Sedangkan kisah mi’raj dijelaskan dalam firman Allah swt :
وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى (13) عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى (14) عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى (15) إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى (16) مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى (17) لَقَدْ رَأَى مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى (18)
“Dan Sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal. (Muhammad saw melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia ( Muhammad saw ) telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.” ( QS An Najm : 13 – 18 )
            Sebelum melakukan Isra’ Mi’raj, Allah swt memerintahkan kepada Malaikat Jibril dan Mikail untuk membedah dada dan mencucui hati Rasulullah saw. Lalu mengapa Allah swt memerintahkan Malaikat Jibril dan Mikail untuk membedah dada dan mencuci hati Rasulullah? Bukankah beliau adalah seorang yang ma’shum ? Ternyata alasannya adalah sebagai pelajaran bagi kita selaku umatnya, bahwa membersihkan, merawat dan menghiasi hati adalah pekerjaan utama yang harus didahulukan dari lainnya, sebagaimana Allah swt mendahulukan pembedahan dan pencucian hati Rasulullah saw sebelum melakukan perjalanan Isra’ Mi’raj.
            Untuk menempuh perjalanan yang sangat jauh ini, Rasulullah saw menggunakan kendaraan buraq. Buraq adalah kendaraan super kilat yang dipakai oleh Rasulullah saw di dalam menempuh perjalanan dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha yang setiap langkahnya sejauh mata memandang, seolah olah dia lari dengan kecepatan cahaya, bahkan mungkin juga lebih cepat dari kecepatan cahaya. Lafadz “Buraq” berasal dari kata “barqun” yang berarti kilat. Oleh sebab itulah, kecepatan lari buraq sangat cepat bagaikan kilat. Buraq itu berbulu putih bersih dan berkaki  empat, badannya tinggi, lebih besar dari keledai, lebih kecil dari kuda dan tidak memiliki jenis jantan atau betina.
            Ketika Rasulullah saw sampai di Baitul Maqdis (Masjid al Aqsha), beliau turun dari Buraq lalu mengikatnya pada salah satu sisi pintu masjid, yakni tempat dimana biasanya Para Nabi mengikat buraq di sana. Kemudian beliau masuk ke dalam masjid bersama Jibril as, lalu masing-masing melakukan sholat dua rakaat. Setelah itu, sekejab mata tiba-tiba masjid sudah penuh dengan sekelompok manusia yang ternyata mereka adalah para Nabi yang diutus oleh Allah swt. Seteah  dikumandangkan adzan dan iqamah, mereka berdiri bershof-shof  seraya menunggu siapakah yang akan mengimami mereka. Kemudian Jibril as memegang tangan Rasulullah saw lalu menyuruh beliau untuk maju. Mereka semua sholat dua rakaat dengan Rasulullah saw sebagai imam. Beliaulah Imam (Pemimpin) para Nabi dan Rasul.
            Kemudian beliau disertai dengan malaikat Jibril as melakukan Mi’raj, yaitu perjalanan menembus berlapisnya langit ciptaan Allah yang Maha Perkasa sampai akhirnya beliau saw berjumpa dengan Allah swt untuk mendapat perintah sholat lima waktu. Sungguh merupakan nikmat dan anugerah yang luar biasa bagi umat ini, di mana Allah swt memanggil Nabi-Nya secara langsung untuk memberikan dan menentukan perintah ibadah yang sangat mulia ini. Cukup kiranya hal ini sebagai kemuliaan ibadah sholat. Sebab perintah ibadah lainnya hanya dengan turunnya wahyu kepada beliau, namun tidak dengan ibadah sholat. Allah swt memanggil hamba yang paling dicintainya yaitu Nabi Muhammad saw ke hadirat Nya untuk menerima perintah ini.         
Keesokan harinya, setelah Rasulullah saw mengalami peristiwa Isra' dan Mi'raj, beliau mengumpulkan orang-orang untuk menyampaikan tentang kabar tersebut. Bahkan pada waktu itu, Orang Kafir Quraisy ingin menguji kebenaran peristiwa Isra' dan Mi'raj dengan harapan Nabi Muhammad saw terbungkam dengan ucapannya sendiri. Akhirnya Rasulullah saw menunjukkan kepada mereka dengan beberapa pertanda, di antaranya adalah : Sampainya Kafilah kaum Quraisy sebelum terbenamnya Matahari. Akan tetapi kala itu kedatangan Kafilah terlambat sehingga ditahanlah Matahari tersebut (oleh Malaikat Jibril) hingga akhirnya mereka sampai.
            Pertanda lain yang disebutkan dalam Kitab-Kitab Hadits dan Siroh adalah penggambaran tentang Masjidil Aqsha dan pintu-pintunya. Kala itu, Rasulullah saw memasuki Masjid Al-Aqsha di malam hari, sehingga tidak bisa menggambarkan (menyifati) pintu pintunya, sebab beliau belum pernah melihat sebelumnya. Manakala orang-orang Kafir meminta agar Rasulullah menceritakan tentang  sifat/bentuk Masjid Al-Aqsha, maka Allah swt mengangkat Masjid Al-Aqsha ke penglihatan Nabi Muhammad saw sehingga beliau bisa memberikan gambaran detail tentang Masjid tersebut.
Isra’ Mi’raj merupakan peristiwa yang tidak pernah dialami oleh para Nabi dan Rasul sebelumnya, oleh karena itulah peristiwa ini termasuk dari pada mu’jizar Rasulullah yang terbesar setelah Al Qur’an. Tujuan utamanya adalah untuk menerima perintah sholat lima waktu dan sebagai penghibur bagi Rasulullah saw pasca kematian istri tercintanya, Khadijah.  Disamping itu, peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan suatu pertanda bahwa pribadi Rasulullah saw di sisi Allah mempunyai nilai kemuliaan dan kepribadian tinggi yang menjadi teladan bagi setiap umatnya. Oleh karena itulah, peringatan Isra’ Mi’raj merupakan ungkapan rasa syukur kepada Allah swt yang telah menurunkan perintah sholat lima waktu serta menjadikan peristiwa itu termasuk dalam keistimewaan Rasulullah saw dibandingkan dengan para Rasul dan Nabi yang lain.
Pertanyaan : Mengapa Isra’ Mi’raj dilakukan pada malam hari ?
Jawaban : karena Isra’ Mi’raj yang dilakukan pada malam hari memiliki beberapa hikmah, diantaranya adalah : Pertama, waktu malam adalah waktu yang tenang dan damai untuk melakukan pertemuan antara kekasih dengan kekasih. Kedua, waktu malam adalah waktu yang sunyi dan waktu yang paling sesuai bagi hamba Allah swt untuk melaksanakan ibadah kepada-Nya. Hal ini sekaligus menolak pendapat para filsafat yang menganggap bahwa waktu malam sebagai sumber kejahatan. Ketiga, Untuk memperkuat iman orang orang mukmin dalam mengimani perkara perkara ghaib.

Related

Artikel 7306967878560085587

Posting Komentar

emo-but-icon

POPULER

Arsip

KALAM HIKMAH

KEBENARAN YANG HARUS KITA IKUTI
Allah ta’ala berfirman,

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا

“Barangsiapa yang menaati Allah dan rasul, maka mereka itulah orang-orang yang akan bersama dengan kaum yang diberikan kenikmatan oleh Allah, yaitu para nabi, shiddiqin, syuhada’ dan shalihin. Dan mereka itu adalah sebaik-baik teman.”
(QS. an-Nisaa’: 69).


Total Tayangan Halaman

item